50 LUKISAN BUDAYA DAN ALAM SULSEL DIPAMERKAN

16 Oct
Makassar, 6/12/2008 (ANTARA) – Sebanyak 50 lukisan yang menggambarkan keindahan alam dan aneka ragam budaya Sulawesi Selatan (Sulsel) dipamerkan di hotel Clarion Makassar, 6-14 Desember 2008.

Penampilan 50 lukisan dalam pameran tersebut sebagai karya yang patut dihargai masyarakat di daerah itu karena bernilai seni yang tinggi yang dituangkan maestronya, JB. Iwan Sulistyo.

“Ini sesuatu yang luar biasa dan patut dihargai oleh masyarakat Makassar khususnya dan Sulsel umumnya karena pelukisnya yang asal Kudus ini mampu menuangkan pikirannya melalui lukisan yang sangat menarik perhatian kita semua,” kata Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo di Makassar, Sabtu malam.

Pada pembukaan pameran lukisan tunggal bertajuk “Exspression of South Sulawesi” yang dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai elemen masyarakat dan pelukis di daerah itu, Syahrul menilai bahwa wajah Sulsel yang dituangkan dalam seni lukis yang cukup menarik itu akan menjadi sumber inspirasi bagi pemerintah dalam menata pembangunan di sektor ini.

Sebab, lanjutnya, lukisan yang bernilai tinggi ini adalah sesuatu yang luar biasa yang harus dihargai guna mendorong pelukis-pelukis muda daerah ini untuk lebih berapresiasi dan berakselerasi membuat lukisan alam, budaya tradisi dan inovatif yang dapat dijual ke mancanegara.

“Andaikata saya bisa melukis seperti yang disajikan pelukis nasional tersebut maka saya akan lakukan itu,” ujarnya seraya menyatakan bahwa dirinya sudah ditakdirkan untuk membangun pemerintahan yang bersih tanpa ada korupsi yang berpihak kepada rakyat.

Menurut Syahrul yang baru menjalani periode pemerintahannya delapan bulan setelah dilantik Mendagri 8 April 2008 untuk periode 2008-2013, seni lukis yang dituangkan dalam coretan tangan di kanvas juga bermakna membangun ketahanan budaya dan bangsa yang mencurahkan rasa kasih sayang dan kedamaian dalam suatu negara.

Sedangkan pelukis JB. Iwan Sulistyo mengatakan, ekspresi Sulawesi Selatan ‘menatap alam, seni dan budaya’ melalui karyanya itu seiring langkah laju modernitas daerah ini ke depan.

“Tidak dapat disangkal, Makassar dan Sulsel pada umumnya kini sedang berbenah, bersiap, menggeliat untuk menyongsong era baru yang penuh dinamika,” katanya menambahkan, daerah ini merupakan belantara perburuan estetika yang cukup menantang bagi siapa pun termasuk dunia bisnis lainnya.

Seperti, ungkapnya, keindahan alam kabupaten Tanatoraja yang memiliki obyek wisata budaya tersohor ke belantara dunia melalui pemakaman mayat adat daerah ini yang tiada duanya itu, pepohonan bambunya menyambut ramah bagi setiap pengunjungnya termasuk kesejukan hutan, bukit dan gunungnya menyatu menyapa tamunya.

“Alam dan Budaya Tanatoraja termasuk pembuatan perahu pinisi di Bira kabupaten Bulukumba telah memberikan inspirasi bagi pembuatan lukisan seni tersebut sekaligus memamerkannya melalui kegiatan tersebut,” katanya.

Karya lukisan yang dipamerkan antara lain wajah bangunan baru bandara Sultan Hasanuddin, gedung merah (merah putih) 63 di jalan Dr. Ratulangi yang sudah disulap menjadi ruko, bangunan tua mesjid raya, gereja Kathedral dalam purnama, interior klenteng Xian Ma, benteng Fort Rotterdam, estetika sudut tua Makassar, pasar pisang, pinisi, hamparan sawah menguning, lumbung padi dalam rumah adat Tanatoraja dan lukisan keindahan alam berbagai daerah kabupaten di Sulsel.

Sumber:

http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/842/50-lukisan-budaya-dan-alam-sulsel-dipamerkan

Universitas Muhammadiyah Makassar Gelar Pameran Lukisan

15 Oct

Selasa, 04 Mei 2010 | 19:15 WIB

TEMPO Interaktif, Makassar - Sebanyak 71 buah lukisan dipamerkan di Auditorium Al-Amin, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.  Pameran dimulai  hari ini hingga  Sabtu mendatang.  Ketua panitia pameran, Muhammad Faisal, mengungkapkan  pameran bertujuan memperingati satu tahun Program Studi Seni Rupa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan, kampus tersebut.

“Pameran lukisan ini merupakan kolaborasi dari pelukis otodidak, akademisi, serta mahasiswa Unismuh dan Universitas Negeri Makassar (UNM), ” kata dia kepada Tempo.

Seluruh lukisan ditampilkan di atas berbagai media, yakni  kanvas, karton, dan kertas.  Ada pun bahannya adalah  cat minyak, cat air, pensil, pensil warna, dan mixmedia yang berbahan pastel, air brush,  acrylic,  dan tanah liat. Sedangkan ukuran medianya dari  kertas A3, A1, A2 hingga ukuran kanvas 70 x 90 sentimeter persegi.

“Hampir semua pelukis dari berbagai aliran ikut menampilkan karyanya, ” ujar dia. Termasuk yang ikut berpameran adalah pelukis dari aliran abstrak, surealis, realis, dekoratif, naturalis, mixmedia, dan pelukis kaligrafi.

Pelukis tersebut antara lain pelukis tanah liat Saenal Beta, lukisan lima pelukis perempuan Makassar dari Makassar Art Gallery,  dosen Seni Rupa Unismuh Hamsah, dan belasan mahasiswa UNM dan Unismuh.

Faisal menyebutkan pameran lukisan ini akan dirangkai dengan pertunjukan musik,  teater, lomba menggambar tingkat sekolah menengah atas, lomba graffiti, dan seminar nasional tentang pendidikan. Lomba graffiti mengambil tema ‘Islam Art Movement’  yang memberi penekanan pada kesenian  dakwah.

Menurutnya, seni bukan hanya mencari nilai arti dan keindahan tapi lebih kepada konseptual, yakni bisa menjadi media penyadaran dan dakwah. Kegiatan ini juga untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional yang diwujudkan  dalam seminar nasional mengenai pendidikan.

Sumber:

http://www.tempointeraktif.com/hg/makassar/2010/05/04/brk,20100504-245503,id.html

Saya, Mike Turusy…

13 Oct

Oleh: Eko Rusdianto

Namanya Mike Turusy. Badannya tidak segarang nama. Tingginya sekira 165 sentimeter lebih. Rambutnya agak kecoklatan dan jarang. Tapi panjang seleher. Dia suka pakai pet.

Sabtu, 29 November, sekira pukul 11.00, udara begitu gerah. Di lantai dua sebuah bangunan, Jalan Jampea, Mike hanya menggunakan celana jeans selutut. Rambut betisnya tak begitu lebat. Dia selalu tertawa. Sambil menunjuk sebuah lukisan yang belum jadi, lalu menawari saya segelas kopi.

Mike seorang pelukis yang cukup dikenal di Makassar. Dia punya aliran sendiri. Meski dasarnya adalah lukisan surealis. Namun, pada kanvas, gambar yang timbul selalu membuat takjub, lukisan dengan motif relif kayu. Orang-orang bilang alirannya, Mike Turusy Style.

Kapan Mike menemukan bakat lukisnya. “Wah sejak kelas dua SMP,” kata dia.

Waktu duduk sekolah menengah pertama di Masamba (sekarang Luwu Utara) dentang lonceng terdengar jelas dalam ruangannya. Penanda jam istirahat datang. Mike kecil tinggal dalam ruangan. “Saya tak keluar main,” katanya. Dia menggambar seorang guru lelaki di papan tulis. Guru itu dipotretnya dari goresan kapur tulis berdiri telanjang.
“Nah waktu bel kedua tanda masuk, saya lupa hapus itu lukisan,” lanjutnya.

Pak guru masuk ruangan, malapetaka terjadi. Melihat wajahnya dipapan tulis, sang guru naik pitam. “Siapa yang gambar,” tanyanya. Seorang murid perempuan menunjuk Mike. “Mulai hari ini kau tidak boleh ikut pelajaran.”
“Kacau itu. Banyak mata pelajaran saya dapat angka merah,” kata Mike.
“Saya tidak naik kelas,” lanjutnya, seraya tertawa.

Setelah kejadian itu, Mike ikut orang tua ke Malaysia. Riwatnya sejak 1961, keluarganya hijrah ke Malaysia. Mereka tidak tenang dengan gerakan pemberontakan DI/TII. Waktu itu Mike berumur 1 tahun lebih. Dia lahir 1959. Awalnya waktu pengungsian ke Malaysia, dia tak ikut. Sekolah di kampung neneknya.

Kejadian tak naik kelas ini, membuat orang tua Mike berang. Dia diangkut ke Malaysia. Hanya beberapa tahun saja, Mike tetap badung. Oleh orang tuanya kembali dikirim ke Kalimantan, tepatnya Balikpapan bersama seorang kakak. Di kampung baru itu, Mike menjadi tukang las. Membuat bermacam-macam hasil kerja. Dia dipecat setelah 2 tahun, bekerja. “Saya ingat membuat kepala ikat pinggang dari tembaga, dan karena itu dipecat,” tuturnya.

Setelah tak memiliki pekerjaan pada 1981, Mike memutuskan merantau ke Jakarta. Labuhan terakhirnya di Blok M. Sebuah wilayah yang terbilang modern, masa itu. Sekarang Blok M, menjadi terminal persinggahan angkutan kota di Jakarta. Di emperan plazanya banyak pedagang kaki lima.

Di Blok M, Mike bertemu Danny. Seorang pelukis potret. Aldiron Plaza sebuah pertokoan modern menjadi tempat mangkalnya. Mike mengadu nasib. Dari pertemuan itulah pandangan hidupnya berubah. Menjadi pelukis. “Saya sudah yakin, lukis bisa menjadi sebuah profesi,” kata Mike.

Pada 1983, turun jalan. Mike membuka jasa melukis potret di emperan toko dan trotoar. “Jadi kalau pernah ke Blok M, di Melawai itu, banyak tukang lukis potret disana. Saya yang pertama memulainya,” tutur Mike.
Tak hanya itu, dia juga seorang pemusik. Sering ngamen di Blok M, bergabung bersama Anto Baret dalam kelompok Laskar Bingung. Di kelompok ini ada juga Kuntet Mangkulangit dan Amir Ros (sekarang di Alfa Mas, penyanyi jazz). “Saya pegang gitar dan vocal. Ramai waktu itu,” tutur Mike.

Dari musik ini pula lah dia peroleh nama Mike. Sebelumnya nama pemberian orang tuanya adalah Rusmin. Kenapa Mike, sebab penampilannya seperti Mike Jagger vocalis band The Rolling Stone. Kebetulan dia pun senang dengan Stone. “Teman-teman memanggil Mike. Pam saya Paturusy. ‘Pa’ didepan saya hilangkan, jadilah Mike Turusy,” katanya.

Mike tak bertahan di musik. Dia sadar kemampuannya pas-pasan. “Lima lagu saja suara saya sudah serak. Selain itu banyak saingan, hahahaha..,” katanya.

Masa itu pula, kekuasaan otoriter Soeharto berkuasa. Pemalakan dimana-mana, terjadi pembunuhan. Pemerintah khawatir akan tumbuh kembangnya premanisme. Muncullah gerakan pembasmian preman, yaitu operasi Petrus. Salah satu sasarannya pemuda yang bertato. Indikasi pemerintah waktu itu, yang bertato adalah preman dan harus dimusnahkan. Ratusan orang meniggal dunia. Di temukan di rawa, pinggir jalan, tergeletak. Dunia mengecam, sebagai pelanggaran HAM terbesar. Hingga saat ini pengadilan untuk peristiwa ini belum terlaksana.

Mike hidup ditengah seruan itu. Dua temannya meninggal dunia. Pada 1983, ketika dari Aldiron Plaza, menjelang magrib dia dipanggil oleh beberapa orang. Pikirnya teman. Mike mendekat. Dia naik ke sebuah mobil Land Rover berwarna gelap. Di atas mobil ada dua ada orang yang telah diborgol. Mobil melaju. Menuju Bogor. Di daerah yang sunyi, mobil perlahan bergerak pelan. Satu orang didorong turun, kemudian didor. Satunya pun demikian. “Saya digertak-gertak diatas mobil. Pokoknya di interogasi lah. Tapi Mike tak punya tato yang mencolok. Hanya ada satu huruf “N” di bahu kanannya. “Jaman itu kan kita ikut Roy Marten. Yang Ali Topan anak jalanan. Roy kan juga punya tatto ‘N’ itu,” kata Mike.

Tak tahu apa yang terjai. Kini dia hanya sendiri di atas mobil, dengan orang-orang berwajah beringas. Tak memakai seragam. Mike didorong turun dari mobil. “Allahu Akbar. Allahu Akbar,” kata Mike, sembari berteriak.
“Saya buka mata, eh, ternyata saya belum mati,” Mike mengenang.

Selepas itu, Mike hijrah ke Yoyakarta. Kondisi lebih parah, teror terjadi dimana-mana. Tak tahan, dia menyeberang ke Bali. “Di Bali sedikit lebih leluasa,” katanya.

Namun, hanya beberapa tahun, dia kembali ke Balikpapan. Di tanah inilah jiwa lukisnya kembali berbinar. Dia membuat padepokan. Pameran lukisan pertamanya bersama sanggar lukis Bayuasri yang ikut didirikannya di Balikpapan. Kartu penduduk pertamanya pun di Balikpapan. Namanya tercetak Mike Turusy bukan nama asli.

Dari jejak itu pula, pada 2007, Mike berpameran tunggal di Jepang (Tokyo). Dan beberapa karyanya menghiasi gallery internasional. Pada 2003 menerima penghargaan Celebes Art Award. Disinilah Mike menjelma menjadi manusia pelukis. Manusia imajinatif. “Kenapa memilih surealis, karena dapat berimajinasi dengan bebas,” kata Mike.

Mata Mike tampak berbinar, merah dan dalam. Kerutan wajahnya jelaslah nampak. Gaya bicaranya berapi-api. Tangannya sering bergerak membuat tekanan pada kata-katanya. Di lengan kanannya ada tato burung elang, dibuat pada 1987. Dua-dua telinganya ditindik, memakai anting hitam.
Siang itu di lantai dua, ruangan ukuran empat meter persegi, Mike berkantor. Ruangan itu disewanya seharga Rp 400 ribu perbulan. “Ya inilah kantornya,” katanya.

Nama kantornya Makassar Art Gallery. Di sanalah berkumpul sebagian pelukis. Di Makassar Mike dikenal sebagai kelompok tiga serangkai. Zaenal Beta pelukis tanah liat. Faisal Ua penggambar karikatur. Dan Mike Turusy pelukis dengan motif kayu.

Sebelum memasuki gallery kecil itu, sebelah kanan pintu tertempel lukisan phinisi berlayar yang diserbu ombak, bahannya dari coklat. Cukup besar. Ketika masuk ruangan, ada beberapa karya menggantung didinding. Karikatur hingga lukisan yang belum jadi.

Mike cukup senang bercerita. Kalau tersenyum gigi ompongnya disebelah kanan atas akan terlihat. Bibirnya hitam, tapi sudah tidak merokok. “Sudah berhenti. Kalau dulu, wah parah,” tuturnya.

Mike menunjuk sebuah lukisan ukuran 1,70 x 1,50 meter. Gambarnya kapal phinisi yang melayang digalaksi. Ditumpangi oleh Karaeng Pattingalloang. Ceritanya Pattingalloang dari bulan menuju bumi. Dia menoropong bumi dengan teleskop yang diselimuti awan. Inspirasi lukisan dari lagu Battu Ratema ri Bulan (kembali dari bulan).

Mike berkisah, pada Agustus 2008, dia mendengar sekelompok anak muda bermain musik di Benteng Rotterdam. Lagu yang dinyanyikan adalah Battu Ratema ri Bulan. “Saya tanya apa arti lagu itu,” kata Mike.
“Kembali dari bulan,” jawab anak muda itu.

Cukup cekatan, ide itu pun muncul. Sekira pukul 16.00, Mike kembali ke gallery. Kanvas dibentangkan, sketsa jadi. Sebuah perahu phnisi berlayar dari bulan menuju bumi. Dan bintang-bintang berkata pada Karaeng Pattingalloang, jika sampai ke bumi akan ada pesta besar untuknya. “Nah, kalau ada yang tanya kenapa ada perahu terbang. Saya akan balik bertanya, apa bedanya karpet. Kenapa bisa terbang,” kata Mike, berlogika.

Menurut Mike, Karaeng Pattingalloang adalah satu dari orang cerdas milik tanah Bugis-Makassar. Beberapa abad lalu, Galelileo Galei menghadiakannya sebuah teleskop. “Iya saya baca di sebuah artikel,” yakin Mike. Saya sendiri belum yakin.

Lukisan itu cukup manarik. Meski demikian pengerjaannya membutuhkan waktu lama, hingga saat ini berjalan tiga bulan. Dan kelarnya baru 80 persen. Masih banyak yang harus ditambahi, bintang-bintang dan glaksi belum ramai. Selain itu, Mike pun harus mengumpulkan referensi tentang galaksi. “Saya itu tidak asal melukis,” tuturnya.
“Biar imajinatif tapi kan harus kuat dasar toh,” lanjutnya.

Di lukisan itu, bulan jelas dengan permukaan yang bopeng atau rusak dan berlubang. Kapal phinisi terlihat dengan empat layar besar. Warnanya coklat, dengan motif kayu yang begitu kental. Anehnya, ada tambahan empat dayung. Dua sisi kiri dan dua kanan. Kata Mike, hanya untuk penyeimbang. Seperti sayap. “Namanya juga imajinasi toh,” tuturnya.
“Coba lihat, ini WC-nya,” katanya, sembari menunujuk sebuah ruang kecil diujung belakang kapal.
“Ha.., Nanti judulnya From the Moon atau Battu Ratema ri Bulan. Lihat saja nanti.”

Gaya melukis dengan motif kayu, ditemukan Mike sekira tahun 1996. Saat itu, Mike ke Toraja. Pengalaman, penglihatan dan pendengarannya menembus batas. Pikirnya, harus melukis dengan gaya tau-tau. Tapi lebih hidup. Untuk itu, dia menampik jika inspirasinya lahir dari pinokio.

Tau-tau adalah boneka kayu dari Toraja yang dibuat untuk mengenang arwah orang meninggal. Biasanya, yang dibuatkan tau-tau adalah keluarga bangsawan yang memiliki banyak uang. Konon, untuk membuat tau-tau harus memotong minimal lima ekor tedong bonga (kerbau yang kulitnya belang). Babi dan ayam tak terhitung. Harga satu kerbau dari Rp 5 juta hingga ratusan juta. Di kota wisata kecil itulah, Mike Turusy Style mendapat bentuknya.

Sebelumnya, lukisan realis Mike tak kalah canggih. Misalnya, lukisan dengan judul Gadis Tenun Toraja, dikatakan para kurator waktu berpameran di Jakarta sebagai hipper realis. Sangat nyata, seperti foto. Pencahaan dan tata dimensi ruangan begitu sempurna. Sekarang lukisan itu menghuni salah satu museum di Belanda.

Mike senang bercerita. Suaranya cukup tegas. Keras. Dia memamerkan beberapa kegiatannya. Dokumen berserakan di lantai plastik bermotif papan catur. “Kau lihat ini’e,” katanya.
“Pokoknya kalau dokumen, saya simapn itu,”
“Ini katalog waktu di Jepang. Disana saya juga diminta bawa workshop,”
“Ini waktu di Kalimantan. Kau lihatlah. Ini cewek, cantik dia. Manis bah,”
“Ketemu saya.”

Tak terasa sudah tiga jam lebih Mike mengurai semua pengalaman dan ingatannya. Genangan kopi pun mulai menipis. Tiba-tiba seorang perempuan datang. Lukisan dari fotonya sendiri sudah selesai.

Mike tersenyum lalu merapikan potret yang digambar ulang, menggunakan cuttonbuth atau pembersih telinga. Artinya, untuk satu lukisan potret, dia hanya perlu pembersih telinga dan pensil.
“Ini juga pekerjaan saya. Artinya untuk cari penghasilan tambahan ya melukis seperti ini,” katanya.
“Intinya untuk karya yang idealis ada di lukisan seperti ini. Dan untuk tambahan makan, dan biaya kontrakan ya lukis potret,” kata Mike.

*) Edisi bersambung di terbitkan Harian Fajar pada 1 Desember hingga 2 Desember. Tapi dengan judul yang berbeda dan alur yang beda pula.

Sumber: http://ekorusdianto.blogspot.com/2008/12/saya-mike-turusy.html

Melukis dengan Tanah Air

13 Oct

Zaenal Beta punya sebuah mimpi. Ia ingin mengumpulkan seluruh tanah liat di Indonesia, kemudian mengabadikannya di atas kanvas dan membuat pameran lukis dari tanah airnya sendiri.

Di sebuah anak tangga bangunan tua Benteng Fort Rotterdam Makassar, Zaenal Beta memangku sebuah papan kertas. Dengan teliti dia mengamati objek di depannya, sebuah sepeda ontel. Pelan-pelan garis kecil mulai terbentuk. “Skets-skets saja. Selalu begitu kalau ada ide harus langsung dituangkan,” katanya.
Melihat perawakan Zaenal, dengan cambang dan jenggot yang menjuntai panjang, sungguh seram, tapi nyentrik. Dia menguncir dua ikatan jenggotnya seperti potongan rambut kepang jaman Siti Nurbaya. Selalu pakai kemeja panjang yang tergulung hingga siku, kancing dibiarkan terbuka hingga baju dalaman yang dikenakannya terlihat.

Hari itu, Jumat 29 Januari Zaenal menceritakan kisahnya menggeluti seni lukis, padahal pernah diremehkan orang tua, teman-teman. Bahkan setelah berkembang, pemasaran lukisan di Makassar sangat sulit. “Itu memang kendala tapi saya sudah berjanji pada diri untuk menjadi seniman. Buktinya hingga sekarang saya masih bisa makan dengan anak istri,” katanya.

Zaenal lahir pada 19 April 1960 dan saat ini memiliki seorang istri dan empat orang anak. Zaenal muda adalah pria yang cukup badung, sekolah sering keteter. Untuk sekolah menengah umum saja dia membutuhkan lima sekolah untuk menamatkan pendidikan. “Saya memang tidak suka belajar, kerjaku itu hanya menggambar sejak SMP,” katanya.

Akhir tahun 1970-an ketika masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP) dia sudah menjadi kartunis untuk media lokal, seperti Pedoman Rakyat. Kemudian bergabung dengan Sanggar Ujung Pandang pimpinan Bahtiar Hafid pelukis Makassar. Tahun 1980 ketika di Sanggar Ujung Pandang, dia terpilih mewakili pameran lukis yang diadakan Dewan Kesenian Makassar (DKM) untuk memilih perwakilan yang akan membawa nama Sulsel ke tingkat nasional.

Namun sial bagi Zaenal, kanvas yang disiapkan untuk melukis terjatuh ke lumpur saat dia mengayuh sepedanya pulang ke rumah. “Saya frustasi. Bingung sekali. Padahal sudah bulan dua (Februari) dan pameran April. Dan pak Bachtiar bilang lukisan yang diikutkan harus yang baru bukan karya lama,” ujar Zaenal.

Di sebuah rumah panggung kecil, Zaenal dengan nafas terengah memperhatikan kanvas yang belepotan lumpur itu. Dia membersihkannya dengan telapak tangan, mengusapnya pelan-pelan. “Tapi setiap di bersihkan saya melihat ada gambar rumah, kapal, dan banyak lagi,” ujarnya. “Dari sini mulai memperhatikan tanah, dan menggunakan secara sembunyi-sembunyi.”

***

Daeng Saga sang ibu diam memperhatikan. Dia berpikir sang anak sudah mulai gila. “Ibu saya khawatir sekali. Kalau dia liatka melukis pake tanah mukanya beda,” kata Zaenal.

Zaenal Beta lahir dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya Daeng Beta adalah pedagang buah dan ibunya tak bekerja. Zaenal adalah anak ke enam dari 12 bersaudara. Sebelumnya saat belum menggeluti dunia gambar nama pemberian orang tuanya adalah Arifin. “Untuk lebih keren saja sebagai seniman, haha haha,” katanya.

Kolong rumah panggungnya, disulap jadi galeri lukis. Di sana sudah bertumpuk beberapa jenis tanah. “Saya bilang jangan jadi seniman. Gila mako itu nak, kita ini keluarga miskin tidak mungkin membeli cat untuk lukisan. Berhenti saja,” kata Ibunya, yang ditirukan Zaenal.

Zaenal tetap kukuh. Anak muda usia 20 tahun saat itu punya tekad baja dan nekat. Kalau tak ada biaya, dia ingin keluarganya tak terbebani dengan kecintaannya terhadap dunia lukisan. “Saya bilang nda usah biayai saya. Saya akan berusaha sendiri cari uang beli cat.”

Tiba lah bulan April pada 1980 itu, lukisan harus segera dikumpul. Dia sangat ketakutan dan khawatir cap gila akan menempel padanya. Tapi kekhawatiran itu berubah, lukisannya yang hanya satu warna dari bahan tanah liat disanjung orang-orang. Zaenal pun bersemangat.

***

April 1986, di Taman Ismail Marsuki (TIM) Jakarta ada perhelatan besar Temu Sastra Nusantara V, Zaenal dikutkan rombongan dari Sulsel sebagai penata set, kala itu usianya sudah 26 tahun. Sebagai penata set, dia membawa serta lima lukisan tanahnya tapi hanya dua yang dipamerkan.

Di Wisma Seni TIM, Zaenal beristirahat dengan beberapa teman. Tiba-tiba seorang kakek tua, duduk di kursi roda datang mencarinya. Wajah kakek itu sudah keriput dengan pengawalan yang ketat. “Itu Affandi dan saya gemetar melihatnya. Dia pelukis favoritku,” kata Zaenal.
“Mana nama Zaenal Beta,” kata Affandi.
“Saya Pak,” jawab Zaenal.
“Saya datang untuk kamu.”

Dialog terakhir itu membuat Zaenal ketakutakan. Dia berpikir ada yang salah dengan lukisan atau akan dicela lagi sebagai orang gila. Pertemuan itu berlangsung singkat. Dan sang Maestro lukis Indonesia, Affandi itu, mengambil kamar nomor delapan tepat di depan kamar Zaenal Beta.

Setelah pameran usai. Affandi mengundang Zaenal Beta untuk bertemu khusus. Di kamar Affandi, Zaenal duduk melantai. Affandi marah dan menyuruhnya duduk di kursi. “Tidak pak, di Bugis Makassar, kalau ada orang tua yang duduk di kursi kami tidak boleh sejajar. Maaf,” ujar Zaenal.

Di pertemuan itu pula, keakraban dibangun, dalam sebuah kesepakatan lisan, Affandi menjadi kakek dan Zaenal menjadi cucu. “Kau lah pelukis tanah air di Indonesia ini, yang melukis dengan tanahnya sendiri,” kata Affandi ditirukan Zaenal.

Oleh sang kakek Affandi, Zaenal tak dizinkan tinggal di Jakarta. Alasannya sederhana, tanah Makassar yang membawa dia menemukan bentuk lukisan yang sangat baik. Penuh karakter dan menjadi satu-satunya di Indonesia. “Kau harus kembali ke Makassar, berkarya lah di kampungmu sendiri. Suatu ketika kau akan besar dan Makassar tanah itu akan menghargaimu,” kata Affandi. “Sekarang apa yang kau ingin minta dari saya sebagai kakekmu,” lanjut Affandi.

Zaenal mengeluarkan sebuah kertas. Dia meminta skets wajah Affandi. Selesai. “Itu seperti piagam pengakuan kalau saya benar-benar penemu pengguna bahan tanah liat untuk melukis,” kata Zaenal.

Proses kreatif Zaenal mengolah bahan tanah liat cukup ribet. Pertama tanah tersebut disaring dengan halus, kemudian dikeringkan, setelah itu direndam untuk melihat daya rekat tanah apakah masih baik atau tidak. Jangan bayangkan, setelah tanah itu dianggap baik, maka akan diratakan di kanvas, dengan sapuan tangan. Kemudian untuk membentuk objeknya, dia menggunakan potongan dari bilah bambu. Kini tak ada cat dan tak ada lagi kuas.

Perlahan kematangan melukis Zaenal Beta dengan gaya realisnya mulai terbentuk. Dan hingga sekarang tak disangka hampir seluruh galeri lukis di Indonesia sudah pernah disambangi, mulai dari Ancol, Bandung, Yogyakarta, Solo, Kalimantan, dan beberapa lainnya. Sedangkan untuk Gallery Nasional dia sudah menyambanginya untuk berpameran sebanyak dua kali, pertama tahun 2001 dan selanjutnya tahun 2003.

Saat ini dia, tinggal di sebuah rumah kecil di samping sbuah kanal, Jalan Inspeksi Kanal Nomer 9 Kelurahan Mandala Kecamatan Mamajang, memiliki harapan besar untuk mengumpulkan seluruh tanah liat di wilayah Indonesia, kemudian disatukan lalu membuat pameran lukisan untuk tanah air Indonesia. “Saya harap semua itu akan tercapai. Di Sulsel saya sudah mendapatkan semua tanah liat dari setiap Kabupaten, kecuali Selayar.”

Untuk mewujudkan itu, dia selalu menawarkan kepada setiap pengunjung di ruangan pinjaman untuk memerkankan lukisannya di gedung DKM Benteng Rotterdam. “Kalau mau, siapa pun itu, silahkan kirim tanah ke saya, dan akan dibarter dengan lukisan tanah dari hasil kiriman itu ukuran 20 x 30 cm,” kata Zaenal.

Catatan, edisi cetak diterbitkan oleh majalah GATRA edisi 24 Februari 2010

Sumber: http://ekorusdianto.blogspot.com/2010/03/melukis-dengan-tanah-air.html

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.