Ali Walangadi Ingin Melukis Lagi

13 Oct

PADA tahun 1960-an, di Sulawesi Selatan ada dua tokoh yang sama tenar. Yang pertama seorang militer, yaitu Andi Matalata. Yang kedua seorang seniman perupa, Ali Walangadi. Matalata, ayah penyanyi cantik Andi Meriem Matalata, bersinar bintangnya sampai pensiun. Namun, Walangadi merasa kurang dihargai.

“Tapi saya bangga menjadi seniman,” kata Ali Walangadi, yang tampak gagah dalam usianya yang menjelang 75 tahun meski seluruh rambutnya telah memutih dan gigi sudah tidak lengkap lagi.

Rumahnya yang berdinding tembok terkesan kusam. Di ruang tamu tergantung sebuah lukisan potret diri dan beberapa karya lain, serta sebuah patung di halaman. Jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan kariernya yang sudah setengah abad. Seorang muridnya menyebut angka 10.000 lukisan yang telah ia buat.

Apakah lukisannya begitu laris sampai tak bersisa? Jawabannya: tidak. Tentu ia sempat menikmati uang dari hasil keseniannya, terutama ketika para kolektor berkebangsaan Belanda masih menetap di kotanya. Itulah masa yang disebutnya menyenangkan karena ada sejumlah orang yang menghargai karya seni. Pada masa sesudahnya, ia begitu suntuk oleh rendahnya apresiasi di kalangan masyarakat terhadap karya seni, dan memusnahkan karya-karyanya sendiri.

“Saya membakarnya,” tuturnya dengan suara rendah. Suaranya tertimpa riuh anak berlarian di gang depan rumah di kawasan Jalan Ratulangi, Makassar tersebut.

Aksi pembakaran itu ia lakukan seusai berpameran di Kampus Universitas Hasanuddin pada tahun 2001. Ia melakukannya dengan sebuah upacara yang dihadiri oleh hampir seluruh seniman setempat. Ia membangun semacam menara dari bambu di kawasan Societet di tengah Kota Makassar. Di sanalah ia menggantung lukisan-lukisannya. Sejumlah lukisan lain ia berikan kepada para seniman yang membantunya menyiapkan acara ini-dan karena itu selamat dari api.

Didahului dengan orasi dan pembacaan puisi, ia lalu menyulutnya. Hasil kerja selama dua tahun-dan kalau dihitung, itu juga hasil perenungan, latihan, maupun pengalaman selama puluhan tahun-sedikit demi sedikit terjilat oleh lidah api. Sungguh sebuah pemandangan yang fantastis: seorang seniman membakar sendiri puluhan lukisannya.

Malam pembakaran di tengah kota itu menjelma menjadi semacam happening art. Kamera foto dan video mengabadikan peristiwa langka tersebut. Jalanan macet.

Ketika “upacara” selesai, hidup harus terus berlanjut, tetapi Ali Walangadi merasa lunglai. Semangatnya kuncup. “Dua tahun saya tidak melukis,” katanya sambil menghela napas.

Luka hati itu mungkin masih bersisa. Bayangkan, tanpa imbalan, ia membuat lambang Provinsi Sulawesi Selatan dan sudah digunakan selama puluhan tahun. Meski demikian, namanya sebagai pencipta tidak tercantum di dalam lampiran Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 1965 tentang Lambang Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.

“Lambang itu telah saya ciptakan tahun 1965 dan baru pada tahun 1992 terbit surat resmi yang memastikan bahwa sayalah yang membuatnya,” kata Walangadi sambil menunjuk sebuah surat yang tergantung di dinding. Di bagian bawah tercantum nama Gubernur A Amiruddin yang membubuhkan tanda tangan serta tanggal terbit 20 Mei 1992. “Itu terjadi sesudah perjuangan panjang lewat surat-menyurat.”

Perbincangan yang ramai tentang hak cipta mendorongnya untuk mempersoalkan karya logonya yang lain, seperti logo perusahaan Semen Tonasa. Waktu itu karyanya meraih hadiah pertama lomba cipta logo Tonasa, yang ternyata digunakan sampai sekarang. Hadiahnya uang Rp 300.000. Kata dia sambil tertawa, “Sesudah terima uang hadiah lomba, itu saatnya sanering. Itu lho, pemerintah menggunting nilainya sehingga tinggal 300 perak. Wah, boleh dikata habis total.” Ia bertanya-tanya, apakah ia masih berhak atas royalti dari logo tersebut.

Beberapa kekecewaan lain, yang konon lebih besar, tidak ia ungkapkan. Belum lagi kalau mengingat beberapa perupa seangkatannya di Jawa jauh lebih tenar atau makmur.

Bisa jadi ada kaitan antara impitan kekecewaan itu dengan stroke yang menyerangnya sekitar dua tahun lalu. Wajahnya, terutama di bagian mulut, agak mencong. Di luar itu, ia tak merasa akibat yang lebih serius. Karena itu, ia tetap berjalan kaki ke mana-mana, bahkan naik gunung seperti kesukaannya sejak dulu.

“Ternyata penyakitnya takut… ya saya sehat kan?” tanyanya sambil tertawa. Dengan banyak makan sayur dan minum air putih, ia mengaku masih sulit melepaskan diri dari rokok.

Kalau masih ada yang mengganggunya untuk melukis lagi adalah katarak yang menyerang matanya. Pandangannya agak kabur, padahal seni yang digelutinya berurusan dengan rupa. Ia paham bahwa penyakit itu bisa diatasi dengan tindakan operasi yang tergolong ringan. Tapi, “Kepengnya yang tidak ada,” tuturnya.

Dalam keadaan seperti ini, semangatnya kembali berkobar ketika diajak untuk berpameran pada bulan Agustus mendatang di Bentara Budaya Jakarta. Ia pun bertekad untuk melukis lagi.

Seniman gaek ini dikenal dengan lukisan-lukisan ekspresionisnya, dengan goresan serba bebas. Ia mengaku tidak mau dikekang untuk hanya berkarya dalam satu buah gaya. Maka, pada masa 1980-an dan 1990-an ia melukis dengan bermacam teknik dan pendekatan. Sejumlah lukisannya yang selamat dari api menunjukkan berbagai gaya dan kecenderungan tersebut, yang uniknya, ia lakukan dalam usia tinggi.

Lelaki kelahiran Gorontalo, 7 November 1928, ini (dan pada umur tujuh tahun hijrah bersama keluarganya ke Makassar) menang dalam lomba menggambar sewaktu masih sekolah dasar pada masa pendudukan Jepang. Surat kemenangannya dalam huruf kanji ia simpan rapi, bahkan ia pajang di ruang tamu. Tuturnya, “Jepang itu luar biasa, di masa perang pun masih memperhatikan pendidikan.”

Kelak, pendidikan pun menjadi perhatiannya. Ia memutuskan hanya satu tahun belajar di sekolah seni terkenal, Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), di Yogyakarta tahun 1950 agar bisa segera mengajar di sekolah guru di Makassar. Ia ikut membina para calon seniman lewat Akademi Seni Lukis Indonesia (ASLI) tahun 1950-an-1960-an. Di usia tuanya, ia membimbing para calon seniman. Sejumlah seniman memang menganggapnya sebagai “bapak”.

Ali Walangadi membuat poster-poster perjuangan semasa menjadi anggota tentara pelajar. Tahun 1956, selama satu tahun, ia bekerja di PFN, badan pembuat film milik pemerintah, di Jakarta. Pulang ke kotanya tahun 1957, ia terlibat pergolakan Permesta, sebuah episode yang terus ia ingat romantikanya. Namun, ia sempat membuat sejumlah patung maupun lukisan fresco, antara lain di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.

Liku-liku hidup tersebut ia arungi lebih dari 50 tahun bersama istrinya yang memberinya sembilan anak, banyak cucu dan cicit. Kecuali beberapa pekerjaan singkat, semua itu ia jalani sebagai seniman, sebagai orang bebas. Tak ada gaji, apalagi pensiun.

Mungkin sajak dari penyair sahabatnya, Husni Djamaluddin, masih tetap relevan. Di situ Walangadi adalah “reptil tua”. Kutipannya: laki-laki itu/ seekor reptil tua/ yang melata/ dari sepi/ ke sepi.

“Ya, saya memang sendirian. Saya masih tetap suka berjalan kaki ke mana-mana. Saya masih tetap suka naik gunung bersama anak-anak muda pencinta alam,” kata seniman tua penggemar musik Kitaro ini. (efix Mulyadi)

(Tulisan asli ada di kompas.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: