Saya, Mike Turusy…

13 Oct

Oleh: Eko Rusdianto

Namanya Mike Turusy. Badannya tidak segarang nama. Tingginya sekira 165 sentimeter lebih. Rambutnya agak kecoklatan dan jarang. Tapi panjang seleher. Dia suka pakai pet.

Sabtu, 29 November, sekira pukul 11.00, udara begitu gerah. Di lantai dua sebuah bangunan, Jalan Jampea, Mike hanya menggunakan celana jeans selutut. Rambut betisnya tak begitu lebat. Dia selalu tertawa. Sambil menunjuk sebuah lukisan yang belum jadi, lalu menawari saya segelas kopi.

Mike seorang pelukis yang cukup dikenal di Makassar. Dia punya aliran sendiri. Meski dasarnya adalah lukisan surealis. Namun, pada kanvas, gambar yang timbul selalu membuat takjub, lukisan dengan motif relif kayu. Orang-orang bilang alirannya, Mike Turusy Style.

Kapan Mike menemukan bakat lukisnya. “Wah sejak kelas dua SMP,” kata dia.

Waktu duduk sekolah menengah pertama di Masamba (sekarang Luwu Utara) dentang lonceng terdengar jelas dalam ruangannya. Penanda jam istirahat datang. Mike kecil tinggal dalam ruangan. “Saya tak keluar main,” katanya. Dia menggambar seorang guru lelaki di papan tulis. Guru itu dipotretnya dari goresan kapur tulis berdiri telanjang.
“Nah waktu bel kedua tanda masuk, saya lupa hapus itu lukisan,” lanjutnya.

Pak guru masuk ruangan, malapetaka terjadi. Melihat wajahnya dipapan tulis, sang guru naik pitam. “Siapa yang gambar,” tanyanya. Seorang murid perempuan menunjuk Mike. “Mulai hari ini kau tidak boleh ikut pelajaran.”
“Kacau itu. Banyak mata pelajaran saya dapat angka merah,” kata Mike.
“Saya tidak naik kelas,” lanjutnya, seraya tertawa.

Setelah kejadian itu, Mike ikut orang tua ke Malaysia. Riwatnya sejak 1961, keluarganya hijrah ke Malaysia. Mereka tidak tenang dengan gerakan pemberontakan DI/TII. Waktu itu Mike berumur 1 tahun lebih. Dia lahir 1959. Awalnya waktu pengungsian ke Malaysia, dia tak ikut. Sekolah di kampung neneknya.

Kejadian tak naik kelas ini, membuat orang tua Mike berang. Dia diangkut ke Malaysia. Hanya beberapa tahun saja, Mike tetap badung. Oleh orang tuanya kembali dikirim ke Kalimantan, tepatnya Balikpapan bersama seorang kakak. Di kampung baru itu, Mike menjadi tukang las. Membuat bermacam-macam hasil kerja. Dia dipecat setelah 2 tahun, bekerja. “Saya ingat membuat kepala ikat pinggang dari tembaga, dan karena itu dipecat,” tuturnya.

Setelah tak memiliki pekerjaan pada 1981, Mike memutuskan merantau ke Jakarta. Labuhan terakhirnya di Blok M. Sebuah wilayah yang terbilang modern, masa itu. Sekarang Blok M, menjadi terminal persinggahan angkutan kota di Jakarta. Di emperan plazanya banyak pedagang kaki lima.

Di Blok M, Mike bertemu Danny. Seorang pelukis potret. Aldiron Plaza sebuah pertokoan modern menjadi tempat mangkalnya. Mike mengadu nasib. Dari pertemuan itulah pandangan hidupnya berubah. Menjadi pelukis. “Saya sudah yakin, lukis bisa menjadi sebuah profesi,” kata Mike.

Pada 1983, turun jalan. Mike membuka jasa melukis potret di emperan toko dan trotoar. “Jadi kalau pernah ke Blok M, di Melawai itu, banyak tukang lukis potret disana. Saya yang pertama memulainya,” tutur Mike.
Tak hanya itu, dia juga seorang pemusik. Sering ngamen di Blok M, bergabung bersama Anto Baret dalam kelompok Laskar Bingung. Di kelompok ini ada juga Kuntet Mangkulangit dan Amir Ros (sekarang di Alfa Mas, penyanyi jazz). “Saya pegang gitar dan vocal. Ramai waktu itu,” tutur Mike.

Dari musik ini pula lah dia peroleh nama Mike. Sebelumnya nama pemberian orang tuanya adalah Rusmin. Kenapa Mike, sebab penampilannya seperti Mike Jagger vocalis band The Rolling Stone. Kebetulan dia pun senang dengan Stone. “Teman-teman memanggil Mike. Pam saya Paturusy. ‘Pa’ didepan saya hilangkan, jadilah Mike Turusy,” katanya.

Mike tak bertahan di musik. Dia sadar kemampuannya pas-pasan. “Lima lagu saja suara saya sudah serak. Selain itu banyak saingan, hahahaha..,” katanya.

Masa itu pula, kekuasaan otoriter Soeharto berkuasa. Pemalakan dimana-mana, terjadi pembunuhan. Pemerintah khawatir akan tumbuh kembangnya premanisme. Muncullah gerakan pembasmian preman, yaitu operasi Petrus. Salah satu sasarannya pemuda yang bertato. Indikasi pemerintah waktu itu, yang bertato adalah preman dan harus dimusnahkan. Ratusan orang meniggal dunia. Di temukan di rawa, pinggir jalan, tergeletak. Dunia mengecam, sebagai pelanggaran HAM terbesar. Hingga saat ini pengadilan untuk peristiwa ini belum terlaksana.

Mike hidup ditengah seruan itu. Dua temannya meninggal dunia. Pada 1983, ketika dari Aldiron Plaza, menjelang magrib dia dipanggil oleh beberapa orang. Pikirnya teman. Mike mendekat. Dia naik ke sebuah mobil Land Rover berwarna gelap. Di atas mobil ada dua ada orang yang telah diborgol. Mobil melaju. Menuju Bogor. Di daerah yang sunyi, mobil perlahan bergerak pelan. Satu orang didorong turun, kemudian didor. Satunya pun demikian. “Saya digertak-gertak diatas mobil. Pokoknya di interogasi lah. Tapi Mike tak punya tato yang mencolok. Hanya ada satu huruf “N” di bahu kanannya. “Jaman itu kan kita ikut Roy Marten. Yang Ali Topan anak jalanan. Roy kan juga punya tatto ‘N’ itu,” kata Mike.

Tak tahu apa yang terjai. Kini dia hanya sendiri di atas mobil, dengan orang-orang berwajah beringas. Tak memakai seragam. Mike didorong turun dari mobil. “Allahu Akbar. Allahu Akbar,” kata Mike, sembari berteriak.
“Saya buka mata, eh, ternyata saya belum mati,” Mike mengenang.

Selepas itu, Mike hijrah ke Yoyakarta. Kondisi lebih parah, teror terjadi dimana-mana. Tak tahan, dia menyeberang ke Bali. “Di Bali sedikit lebih leluasa,” katanya.

Namun, hanya beberapa tahun, dia kembali ke Balikpapan. Di tanah inilah jiwa lukisnya kembali berbinar. Dia membuat padepokan. Pameran lukisan pertamanya bersama sanggar lukis Bayuasri yang ikut didirikannya di Balikpapan. Kartu penduduk pertamanya pun di Balikpapan. Namanya tercetak Mike Turusy bukan nama asli.

Dari jejak itu pula, pada 2007, Mike berpameran tunggal di Jepang (Tokyo). Dan beberapa karyanya menghiasi gallery internasional. Pada 2003 menerima penghargaan Celebes Art Award. Disinilah Mike menjelma menjadi manusia pelukis. Manusia imajinatif. “Kenapa memilih surealis, karena dapat berimajinasi dengan bebas,” kata Mike.

Mata Mike tampak berbinar, merah dan dalam. Kerutan wajahnya jelaslah nampak. Gaya bicaranya berapi-api. Tangannya sering bergerak membuat tekanan pada kata-katanya. Di lengan kanannya ada tato burung elang, dibuat pada 1987. Dua-dua telinganya ditindik, memakai anting hitam.
Siang itu di lantai dua, ruangan ukuran empat meter persegi, Mike berkantor. Ruangan itu disewanya seharga Rp 400 ribu perbulan. “Ya inilah kantornya,” katanya.

Nama kantornya Makassar Art Gallery. Di sanalah berkumpul sebagian pelukis. Di Makassar Mike dikenal sebagai kelompok tiga serangkai. Zaenal Beta pelukis tanah liat. Faisal Ua penggambar karikatur. Dan Mike Turusy pelukis dengan motif kayu.

Sebelum memasuki gallery kecil itu, sebelah kanan pintu tertempel lukisan phinisi berlayar yang diserbu ombak, bahannya dari coklat. Cukup besar. Ketika masuk ruangan, ada beberapa karya menggantung didinding. Karikatur hingga lukisan yang belum jadi.

Mike cukup senang bercerita. Kalau tersenyum gigi ompongnya disebelah kanan atas akan terlihat. Bibirnya hitam, tapi sudah tidak merokok. “Sudah berhenti. Kalau dulu, wah parah,” tuturnya.

Mike menunjuk sebuah lukisan ukuran 1,70 x 1,50 meter. Gambarnya kapal phinisi yang melayang digalaksi. Ditumpangi oleh Karaeng Pattingalloang. Ceritanya Pattingalloang dari bulan menuju bumi. Dia menoropong bumi dengan teleskop yang diselimuti awan. Inspirasi lukisan dari lagu Battu Ratema ri Bulan (kembali dari bulan).

Mike berkisah, pada Agustus 2008, dia mendengar sekelompok anak muda bermain musik di Benteng Rotterdam. Lagu yang dinyanyikan adalah Battu Ratema ri Bulan. “Saya tanya apa arti lagu itu,” kata Mike.
“Kembali dari bulan,” jawab anak muda itu.

Cukup cekatan, ide itu pun muncul. Sekira pukul 16.00, Mike kembali ke gallery. Kanvas dibentangkan, sketsa jadi. Sebuah perahu phnisi berlayar dari bulan menuju bumi. Dan bintang-bintang berkata pada Karaeng Pattingalloang, jika sampai ke bumi akan ada pesta besar untuknya. “Nah, kalau ada yang tanya kenapa ada perahu terbang. Saya akan balik bertanya, apa bedanya karpet. Kenapa bisa terbang,” kata Mike, berlogika.

Menurut Mike, Karaeng Pattingalloang adalah satu dari orang cerdas milik tanah Bugis-Makassar. Beberapa abad lalu, Galelileo Galei menghadiakannya sebuah teleskop. “Iya saya baca di sebuah artikel,” yakin Mike. Saya sendiri belum yakin.

Lukisan itu cukup manarik. Meski demikian pengerjaannya membutuhkan waktu lama, hingga saat ini berjalan tiga bulan. Dan kelarnya baru 80 persen. Masih banyak yang harus ditambahi, bintang-bintang dan glaksi belum ramai. Selain itu, Mike pun harus mengumpulkan referensi tentang galaksi. “Saya itu tidak asal melukis,” tuturnya.
“Biar imajinatif tapi kan harus kuat dasar toh,” lanjutnya.

Di lukisan itu, bulan jelas dengan permukaan yang bopeng atau rusak dan berlubang. Kapal phinisi terlihat dengan empat layar besar. Warnanya coklat, dengan motif kayu yang begitu kental. Anehnya, ada tambahan empat dayung. Dua sisi kiri dan dua kanan. Kata Mike, hanya untuk penyeimbang. Seperti sayap. “Namanya juga imajinasi toh,” tuturnya.
“Coba lihat, ini WC-nya,” katanya, sembari menunujuk sebuah ruang kecil diujung belakang kapal.
“Ha.., Nanti judulnya From the Moon atau Battu Ratema ri Bulan. Lihat saja nanti.”

Gaya melukis dengan motif kayu, ditemukan Mike sekira tahun 1996. Saat itu, Mike ke Toraja. Pengalaman, penglihatan dan pendengarannya menembus batas. Pikirnya, harus melukis dengan gaya tau-tau. Tapi lebih hidup. Untuk itu, dia menampik jika inspirasinya lahir dari pinokio.

Tau-tau adalah boneka kayu dari Toraja yang dibuat untuk mengenang arwah orang meninggal. Biasanya, yang dibuatkan tau-tau adalah keluarga bangsawan yang memiliki banyak uang. Konon, untuk membuat tau-tau harus memotong minimal lima ekor tedong bonga (kerbau yang kulitnya belang). Babi dan ayam tak terhitung. Harga satu kerbau dari Rp 5 juta hingga ratusan juta. Di kota wisata kecil itulah, Mike Turusy Style mendapat bentuknya.

Sebelumnya, lukisan realis Mike tak kalah canggih. Misalnya, lukisan dengan judul Gadis Tenun Toraja, dikatakan para kurator waktu berpameran di Jakarta sebagai hipper realis. Sangat nyata, seperti foto. Pencahaan dan tata dimensi ruangan begitu sempurna. Sekarang lukisan itu menghuni salah satu museum di Belanda.

Mike senang bercerita. Suaranya cukup tegas. Keras. Dia memamerkan beberapa kegiatannya. Dokumen berserakan di lantai plastik bermotif papan catur. “Kau lihat ini’e,” katanya.
“Pokoknya kalau dokumen, saya simapn itu,”
“Ini katalog waktu di Jepang. Disana saya juga diminta bawa workshop,”
“Ini waktu di Kalimantan. Kau lihatlah. Ini cewek, cantik dia. Manis bah,”
“Ketemu saya.”

Tak terasa sudah tiga jam lebih Mike mengurai semua pengalaman dan ingatannya. Genangan kopi pun mulai menipis. Tiba-tiba seorang perempuan datang. Lukisan dari fotonya sendiri sudah selesai.

Mike tersenyum lalu merapikan potret yang digambar ulang, menggunakan cuttonbuth atau pembersih telinga. Artinya, untuk satu lukisan potret, dia hanya perlu pembersih telinga dan pensil.
“Ini juga pekerjaan saya. Artinya untuk cari penghasilan tambahan ya melukis seperti ini,” katanya.
“Intinya untuk karya yang idealis ada di lukisan seperti ini. Dan untuk tambahan makan, dan biaya kontrakan ya lukis potret,” kata Mike.

*) Edisi bersambung di terbitkan Harian Fajar pada 1 Desember hingga 2 Desember. Tapi dengan judul yang berbeda dan alur yang beda pula.

Sumber: http://ekorusdianto.blogspot.com/2008/12/saya-mike-turusy.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: