Seni Rupa di Makassar: Labirin Masalah

13 Oct

Oleh Halim HD

Banyak kalangan perupa di Makassar dan daerah sekitarnya di wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel), termasuk juga diantaranya kalangan perupa dan pengamat dari luar wilayah itu bertanya: kenapa kehidupan senirupa di Makassar dan Sulsel tidak pernah dibicarakan, dan kenapa gaung kehidupan senirupanya tak pernah kalau tidak ingin dikatakan disinggung oleh kalangan media dan pengamat? Pertanyaan itu, selalu saya dengar dari kalangan perupa Makassar sendiri maupun mereka yang berminat. Dan selama kurang lebih sekitar 10-an tahun saya bolak-balik antara Solo dan ke wilayah kebudayaan yang memiliki tiga pendukung sub-etnis (Makassar, Bugis, Toraja; dahulu empat, ditambah Mandar. Kini wilayah Mandar menjadi propinsi sendiri menjadi Sulawesi Barat, Sulbar), dan berusaha mengenal dari dekat kalangan perupanya, sedikit banyak saya bisa memahami berbagai pertanyaan dan gugatan itu. Ada gugatan dari para perupa di Makassar (kesemuanya rata-rata mereka datang dari berbagai daerah Sulsel, dan kini bermukim di ibukota propinsi) yang menyatakan bahwa ada ketidakadilan dalam perspektif historis dari kalangan pengamat senirupa yang dominan bermukim di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, yang menurut mereka para pengamat itu sangat berpengaruh didalam menciptakan image, citra tentang kehidupan senirupa di Makassar dan Sulsel.

Mungkin ada benarnya juga gugatan itu: jejak centering, jejak sejarah sentralisasi cara pandang yang berpusat di Jawa (baca: Yogyakarta, Bandung, Jakarta) dan ditambah Bali selama kurang lebih 30-an tahun ikut menentukan proses perkembangan senirupa di Makassar. Sebab, misalnya mereka menengok jejak sejarah senirupa di Makassar tahun 1950-an dan 1960-an, seperti yang pernah saya dengar dari salah seorang perupa modern angkatan pertama yang pernah mengenyam pendidikan di ASRI Yogyakarta pada pertengahan tahun 1950-an, Ali Walangadi, bahwa sosok seperti Affandi saja pernah pameran di Makassar. Dan sebuah pameran senirupa di jaman itu, dimana tokoh seperti JE. Tatengkeng salah seorang sasterawan Angkatan 45 sendiri pernah bermukim di Makassar, dan sejumlah seniman yang menjadi figur dalam kehidupan kesenian moderen di Indonesia pos-revolusi bukanlah sekedar pameran seperti jaman kini yang dipenuhi oleh berbagai isu, gosip, rumor soal harga dan sejauh mana pasar diciptakan. Ali Walangadi yang kini berusia hampir 80 tahun pernah bercerita kepada saya, bahwa pameran di jaman itu di Makassar menjadi pembicaraan bukan saja lantaran peristiwa kesenian langka, tapi lebih dari itu sebuah pameran senirupa berusaha untuk mencari “jiwa Indonesia”, dan menancapkan apa yang disebut peran, fungsi serta posisi senirupa di dalam kehidupan kebudayaan di dalam tumbuhnya bayi republik yang sedang merangkak. Dan kita bisa membayangkan betapa gegap gempitanya suatu hubungan senirupa antara Makassar-Yogyakarta dalam kaitan dengan kehidupan politik kebudayaan yang sedang ditancapkan akarnya, dan berusaha mendongkrak semangat nasionalisme. Mungkin disini peran apa yang dilontarkan oleh Sujoyono dan rekan seangkatannya mendapatkan gaung yang kian kuat, dan pada waktu itu juga sangat kuat kaitannya dengan pembentukan politik kesatuan-persatuan yang namanya NKRI. Sebab, perlu kita ketahui pula bahwa wilayah Sulawesi dan Indonesia Timur dengan pusatnya Makassar sejak pos-revolusi menjadi ajang bagi berbagai kekuatan politik, termasuk diantaranya mereka yang pro-Belanda, mendirikan Negara Indonesia Timur. Untuk itu, senirupa sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan, dan dapat dianggap memiliki kontribusi dalam pembentukan semangat nasionalisme ikut bergerak. Hal itu juga sejalan dengan berbagai segi kesenian lainnya. Misalnya pada tahun 1947 Bung Karno meminta kepada pemerintah lokal untuk menciptakan suatu tari yang bisa dijadikan citra bagi daerah Sulawesi. Maka seorang pemudi berumur 18 tahun, Andi Nani Sapada menciptakan Patuddu, suatu jenis tari dengan latar belakang sejarah Mandar. Kita juga ingat lagu Angin Mamiri yang diciptakan oleh Daeng Boratte, menjadi hit sampai dengan tahun 1970-an, sama seperti lagu Ati Raja yang diciptakan dan diaransir oleh Ho Eng Djie, yang pernah berulangkali diundang oleh Bung Karno untuk manggung di istana Negara.

Kembali kepada kehidupan senirupa masakini: pertanyaan kita, kenapa pula getar sejarah yang pernah dimiliki oleh Makassar dalam kehidupan kesenian dan khususnya senirupanya kini kian tak terasa, kalau tidak ingin dikatakan sekedar ada, dan tanpa kontinyuitas yang jelas? Saya menganggap bahwa gugatan para perupa maupun mereka yang berminat didalam kehidupan senirupa di Makassar memiliki kecenderungan untuk mengada-ada. Kita memang menyadari benar perubahan kondisi dan orientasi didalam kehidupan senirupa khususnya setelah periode tahun 1980-an, dimana pembentukan politik ekonomi demikian kuatnya, dan disitu pula kita melihat ada kaitan kuat antara pasar internasional yang mau tidak mau ikut membentuk selera, dan selera itu pula yang ikut menciptakan orientasi kalangan perupa di Indonesia, khususnya mereka yang bermukim di Yogyakarta, Bandung dan Jakarta, yang kesemuanya sesungguhnya datang dari berbagai daerah. Apa yang ingin saya tegaskan disini, jika kita menerima logika kondisi dan dengan derasnya arus globalisasi selama rentang waktu 30 tahun terakhir, boleh dikatatan para perupa di Makassar kehilangan arah: terlalu banyak bicara tentang khasanah lokal tanpa konteks yang jelas dan tanpa pemahman sejarah lokal yang mendalam. Jika mereka melukis, maka lukisan yang mereka garap adalah suatu pencitraan yang berangkat dari apa yang mereka lihat begitu saja, tanpa suatu pendalaman. Maka yang kita saksikan adalah sejumlah “realisme” yang nampak dangkal. Well, marilah kita terima kenyataan itu dengan rasa segan atau bahkan pahit: “realisme” atau “naturalisme” yang ada juga tidak didukung oleh kapasitas tehnik yang tinggi. Sementara itu, sialnya, lantaran desakan kehidupan ekonomi yang kian kuat, dan kota makin menuntut gaya hidup yang kian tinggi secara ekonomis, maka senirupa pesanan berupa potret diri dan keluarga, pemandangan alam, upacara atau ritual tari dan sekumpulan hewan menjadi hal yang sehari-hari. Sesekali mereka berusaha menampilkan diri dengan pencitraan “kontemporer”, mencoba memagut berbagai masalah, yang sekali lagi tidak saya rasakan sesuatu yang membuat saya berpikir lebih jauh.

Sampai sekarang sepanjang saya mengenal puluhan perupa di Makassar, rasanya saya jarang menemukan sosok dengan tehnik yang tinggi, terkecuali Rusdi yang kuat namun masuk kedalam suatu rutinitas demi kehidupan keluarga. Sementara itu para perupa lainnya, kian tenggelam ke dalam kerutinan tanpa pendalaman apapun juga. Tentu kecuali sejumlah gerutuan. Ironisnya, justeru ketika informasi dan berbagai gagasan simpang siur disekitarnya yang dilansir melalui media cetakan dan elektronika, mereka masih saja berkutat dengan yang mereka anggap sebagai khasanah lokal, dan itupun, sekali lagi, sekedar cap nasionalisme-etnis untuk dianggap sebagai warga Bugis-Makassar-Toraja: dangkal, eksotik dan eksotik.

Tentu kita akan bertanya-tanya, tidakkah ada pameran yang bisa mempertanyakan semua gerak senirupa itu, yang bisa menjadi ukuran sementara untuk menguji sejauh manakah ada perkembangan kualitas dan gagasan dari seorang perupa atau suatu komunitas? Maka jika kita menganggap bahwa sebuah kota dengan populasi satu setengah juta lebih seperti Malang atau Yogyakarta, kita akan merasa kecewa. Pertama, di Makassar tiada galeri. Yang disebut “galeri” adalah sebuah ruangan yang menjadi bagian dari gedung kesenian, dan siapa saja bisa menggunakannya, termasuk untuk latihan tari dan teater atau musik, dan lebih banyak diisi oleh kegiatan latihan seni pertunjukan itu. Lalu kita menengok dalam dua tahun terakhir ini yang memang ada pameran: sekali di Taman Budaya Sulawesi Selatan, dua kali di dua buah hotel berbintang yang sebenarnya bukanlah “galeri” tapi sebuah kafe yang dindingnya diisi oleh lukisan. Dan dua-tiga kali pameran tugas akhir dari mahasiswa UNM (Universitas Negeri Makassar, dahulu namanya IKIP Makassar), yang bikin mata kita sakit lantaran kualitas yang jauh dari harapan, tapi juga berjubel didalam menata dan tanpa penerangan yang memadai di gedung kesenian Sulawesi Selatan yang namanya berbau kolonial, “Societeit de Harmonie”, dan di ruang rapat Dewan Kesenian Makassar (DKM). Dan pasti ditambah dengan sejumlah pidato para pembimbing, ketua jurusan dan dekan, dan jadilah pembukaan pameran bagaikan lomba pidato! Aneh bin ajaib, mereka menganggap bahwa pameran mereka merupakan tonggak, dan itu tentu dengan tepukan dada agar diri menjadi lebih percaya kepada apa yang dikerjakan. Hal itu oke-oke saja. Namun, tepukan dada dan lalu menganggap bahwa apa yang dikerjakannya sebagai sebuah tonggak, mungkin sebaiknya melalui suatu kriteria, adanya perspektif yang datang dari luar yang didasarkan kepada disiplin ilmu pengetahuan, sejarah dan juga tentu kejujuran diri. Tepukan dada tetap berlangsung dan menganggap bahwa karyanya bisa dijual belasan juta rupiah menjadi suatu obrolan yang kita dengar dengan perasaan tersipu-sipu. Adakah itu suatu keinginan, impian, atau harapan. Orang Belanda menyatakan bahwa zonder hoop is dood, maka semuanya jadi sah. Hanya saja, menurut saya, keabsahan itu, sekali lagi hendaknya dikerjakan dengan dan melalui realitas hidup yang ada disekitarnya: ada berbagai pemikiran yang bisa memberikan pertimbangan, kritik secara lisan, dan untuk itu diskusi, dialog sangat diperlukan. Namun, hal itu tidak dikerjakan, dan yang ada sekedar acara yang satu dengan lainnya para perupa hanya menunggu: adakah jurnalis yang akan menulis, dan pengamat yang bersedia untuk mengulas? Dan jangan berharap kepada kalangan akademisi untuk menulis ulasan atau sekedar review. Penantian seperti itu, tentu saja seperti waiting for godot: kalangan akademisi yang bermukim di kampus dan menjadikan kampusnya yang kumuh itu bagaikan menara gading: bersibuk dengan berbagai tugas akademis dan birokrasi. Kehadiran mereka dalam acara pembukaan misalnya, bukanlah suatu kehadiran kritis dengan mengajak dialog atau diskusi, bukan pula untuk memberikan pertimbangan tentang perkembangan mutahir dari kehidupan senirupa. Jauh dari itu. Dan tahukah Anda, berapa banyak eksemplar majalah senirupa Visual Art terjual di Makassar, jika media ini kita jadikan indikator sebagai media informasi, dan berapakah yang terjual di kampus yang memiliki jurusan senirupa itu? Tak lebih dari jari yang ada disebelah tangan kita, dan media itu hanya terjual sekitar belasan eksemplar! Bandingkan dengan Solo, kota yang juga melempem kehidupan senirupanya, mencapai tiras 40-an eks.

Tentu selalu ada dalih untuk berkilah, sejumlah apologi yang bisa disemburkan dan dengan tanpa malu: jurusan senirupa yang ada di UNM bukanlah untuk mendidik seseorang menjadi perupa; mereka dididik untuk menjadi guru! Nah, bayangkan, jika sebuah lembaga pendidikan untuk mencetak guru (dan sebagiannya menjadi perupa atau birokrat dinas kesenian atau pendidikan), lalu bagaimana kualitas mereka jika mereka tidak pernah mengikuti perkembangan mutahir kehidupan senirupa yang ada? Dan jangan tanya juga perkembangan mutahir literatur senirupa. Jadi, marilah kita terima kondisi yang ada, diantara celoteh dan gerutu yang selalu disemburkan di warung depan gedung kesenian atau dipojok-pojok kampus, misalnya tentang lembaga kesenian yang dikelola oleh pemerintah seperti taman budaya yang memang hanya cerdas berkongkalikong dan berpatgulipat di dalam menyusun anggaran yang dibarengi dengan tiadanya kualitas didalam menggelar acara. Sementara DKM, DKSS (Dewan Kesenian Sulawesi Selatan), dan BKKI (Badan Koordinasi Kesenian Indonesia) Sulawesi Selatan sama sekali tidak memiliki program, dan lembaga itu memang sekedar ada dengan susunan pengurus sejumlah seniman, akademisi dan birokrat yang tak memiliki visi sama sekali. Sedangkan BKKI kota Makassar sekali setahun mengadakan pameran, dan membuat gardu senirupa yang juga jarang didatangi perupa, walaupun disediakan majalah senirupa dan juga bisa dijadikan sebagai gardu informasi.

Maka kesibukan masing-masing perupa di Makassar berupa bagaimana, seperti yang saya nyatakan diatas, mencari sesuap nasi, sambil menunggu undangan dari, konon, luar negeri! Hal itu memang bukan tidak mungkin. Sebab, sekali lagi, bicara soal enirupa kita juga bisa bicara soal “selera”. Dan hal ini bisa terjadi dengan adanya seorang-dua “turis” yang kebetulan concern dan berminat dengan warna lokal yang etnik dan turistik. Sementara itu, perupa lainnya yang juga menunggu dari “agennya” yang konon ada di Jakarta, seorang-dua birokrat atau seseorang yang dekat dengan lingkungan birokrasi di “pusat” yang katanya bisa menyelenggarakan pameran senirupa, yang sampai kini sejak 10 tahun terakhir hanya sekali diselenggarakan. Dan itupun dengan kualitas yang sungguh-sungguh jelek!

Dan yang paling menarik, disini kita menyaksikan bahwa diantara ketiadaan suatu kriteria penilaian, kuratorial, begitu banyak gosip, rumor, isu, dan tak pernah sepi dari gontok-gontokan: begitu banyak faksi senirupa yang berkelompok yang semula mereka satu sama lainnya saling mengenal, kini mereka memasuki suatu jarak. Dan jarak itu bukan karena adanya perbedaaan gagasan, konsep, aliran atau isme, tapi masuk kedalam pertikaian untuk merebutkan posisi siapa yang paling utama. Paternalisme dan egoisme sempit yang menggumpal di dalam diri yang menjadi latar belakang sejarah hidupnya, kini dipeluk sendiri diantara celoteh tentang kesetaraan, demokratisasi, keadilan sosial yang dipenuhi dengan berbagai istilah. Dalam kecamuk seperti itu, kita tak akan mendapatkan suatu perbincangan yang akrab. Yang ada hanya intrik, dan bila perlu saling menjatuhkan. Anda tidak percaya? Coba saja misalnya lemparkan informasi tentang rencana pameran ke Jakarta, apalagi ke luar negeri, dan kumpulkan mereka. Dalam seminggu-dua akan bermunculan berbagai rumor, gosip, isu, yang bukannya bicara tentang senirupa, tapi “siapa” yang diajak! Ikatan primordialisme dalam bentuk faksi-faksi itu juga masuk kedalam kampus.

Inilah ironi dari suatu wilayah yang dahulu memiliki latar belakang kesejarahan yang demikian kaya oleh watak decentering, kosmopolitan, dan dengan individualitas yang tinggi yang membuat mereka demikian kuat dalam berkompetisi sebagaimana watak yang ditunjukan oleh kaum saudagar dan pelaut yang ulet, dan dengan rasa ingin tahu, kuriositas, yang menggebu-gebu yang membuat wilayah ini pernah memiliki sastera yang dianggap terpanjang didunia, I La Galigo, sebuah konsep penjadian dunia dan kehidupan dengan rincian yang kuat yang ditata ke dalam berbagai bentuk kode etik yang kini masih mereka ingat. Dan disitu pula ironi dan kontradiksi kian mencengkam dan mendalam: terlalu berpaling kepada diri sendiri tanpa pendalaman sejarah yang kuat, dan dibarengi dengan sejumlah ambisi untuk menguasai, namun juga tanpa kesadaran kepada berbagai jaringan yang interaktif, dinamik dan cepat berubah. Dibandingkan dengan watak para pedagang kecilpun sesungguhnya kalangan kesenian, khususnya senirupa di Makassar, mereka tak memiliki daya tahan yang kuat untuk melakukan eksplorasi. Yang ada hanya menunggu sambil menggerutu!

Makassar, 21 Maret 2007
Halim HD. – Networker Kebudayaan Forum Panilih Solo

Sumber: http://www.mantagisme.co.cc/2007/04/seni-rupa-di-makassar-labirin-masalah.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: